08112652210 / 08112652244 info@bisniscoaching.com

Bayangkan momen ini. Anda bertemu dengan seorang rekan di tempat parkir di sore hari, dan ia mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan proyek di tempat Anda bekerja. Sebelum berkembangnya teknologi seluler, Anda mungkin harus kembali ke ruang kerja untuk mencari informasi dan kemudian memberikan jawaban. Sekarang dengan smartphone, tablet, dan laptop, pertanyaannya dapat dijawab di tempat, jika itu memungkinkan umpan balik segera.

 

Gaya Kerja Dulu Vs Sekarang

Itu adalah satu situasi sederhana yang menandakan berubahnya gaya kerja dulu dan sekarang. Di era yang serba teknologi ini, tentunya ada banyak perbedaan cara kita dalam menangani sebuah pekerjaan maupun mengurus SDM-nya yang terdiri dari berbagai generasi.

Kali ini kita fokus untuk melihat 2 golongan: generasi X dan generasi Y. Generasi X lahir antara tahun 1965 dan 1981, sedangkan generasi Y atau generasi millenial lahir setelah tahun 1981 sampai 2000 (beberapa sumber lain menyebutkan 1996). Bukan masalah angkanya, tapi bagaimana perlakuan yang tepat terhadap mereka.

 

Tentang populasi anak muda di Indonesia dan dunia

Lima puluh persen populasi dunia 2018 adalah berusia di bawah 30 tahun. Ini adalah populasi pemuda tertinggi dalam sejarah. Survei dari World Economic Forum (yang mencakup lebih dari 30.000 individu di bawah 30 dari 186 negara) memberi tahu kita apa yang dipikirkan para pemimpin muda masa kini tentang dunia kita dan tempat mereka di dalamnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Pada tahun 2020-2030, Indonesia mendapatkan bonus demografi di mana banyak anak muda produktif yang hidup pada tahun-tahun tersebut. Bonus demografi bukan hanya bicara soal jumlah yang besar, tapi juga tentang hal produktif yang bisa dilakukan dengan jumlah yang besar itu. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk, apa yang bisa kita lakukan?

Seiring berkembangnya tenaga kerja, kita boleh bersukacita dalam kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat dibawa oleh generasi muda dan kemampuan pemecahan masalahnya sendiri ke tempat kerja. Bukan rahasia lagi kalau inovasi-inovasi yang mengubah dunia dimotori oleh generasi muda. Sementara generasi pendahulunya menginginkan lebih banyak keuntungan, millenial mengalihkan tujuan bisnis mereka ke dampak sosial. Tidak sedikit generasi millenial menganggap setiap pekerjaan adalah batu loncatan untuk jenjang karir yang benar-benar mereka impikan.

 

Apa kunci budaya kerja yang menyatukan segala usia?

Menciptakan budaya kerja yang menyatukan segala usia memang menantang. Tidak jarang, ini bisa memunculkan miskomunikasi, atau bahkan diskriminasi usia. Generasi X yang lebih tua sering merasa terdorong untuk melestarikan nilai-nilai, kebijaksanaan, dan pengetahuan sesuai dengan usia mereka.

Generasi Y yang lebih muda mungkin saja cenderung berpikir bahwa penemuan dan inovasi seringkali mengharuskan lepas dari cara-cara tradisional. Generasi X dengan budaya kerja pada zamannya mungkin saja masih bisa memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Generasi millenial justru tertarik dengan jam kerja fleksibel, yang tidak terikat jam kerja. Otomatis waktu di rumah pun bisa terpakai untuk urusan pekerjaan.

Ini bukan soal benar atau salah, hanya saja dua generasi ini tumbuh di era yang berbeda. Memahami apa yang mendorong generasi lain adalah langkah pertama untuk menjembatani kesenjangan generasi ini di tempat kerja. Dan pada akhirnya, kita semua menginginkan hal yang sama: merasa dihargai dan dihargai.



VIDEO (VLOG) COACH EDWIN


Jangan lewatkan menonton video dari Coach Edwin tentang Life, Spiritual dan Bisnis. Tekan tombol berikut pada video dibawah untuk memilih judul Vlog yang Anda ingin lihat.

playlist VLOG



Program Kami

 

Jika Anda membutuhkan pembicara terkait motivasi, konsultasi berbagai masalah kehidupan / bisnis, Coach untuk menangani masalah yang Anda hadapi, silahkan konsultasikan kepada kami melalui whatsApp sekarang juga.



Apa Masalah Anda?

WhatsApp