08112652210 / 08112652244 info@akeyodia.com

Apakah mengadakan in house training untuk karyawan wajib hukumnya? Pelajari landasan peraturan, keuntungan, serta cara merancang program pelatihan internal yang efektif dan sesuai kebutuhan perusahaan dalam artikel jurnalistik ini.

Apakah Mengadakan Pelatihan Untuk Karyawan Itu Wajib Hukumnya?

Menyelami In House Training dalam Konteks Hukum dan Praktik Perusahaan

Definisi In House Training

In house training adalah program pelatihan yang dirancang dan dilaksanakan oleh perusahaan untuk karyawannya sendiri. Pelatihan ini bisa berkisar dari pengenalan budaya perusahaan hingga penguasaan perangkat lunak khusus. Berbeda dengan pelatihan eksternal, in house training biasanya lebih terfokus pada kebutuhan unik organisasi.

Dengan kata lain, in house training adalah investasi internal. Melalui pendekatan ini, perusahaan membangun kompetensi spesifik yang sulit diperoleh lewat lembaga pelatihan di luar. Semua materi disesuaikan, mulai dari durasi hingga metode penyampaian. Sehingga, konteks belajar lebih relevan dan langsung terintegrasi ke dalam operasi sehari‑hari.

Landasan Hukum Pelatihan Karyawan Internal

Secara eksplisit, Undang‑Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak menyebut istilah “in house training”. Namun, Pasal 10 ayat (2) UU tersebut menyatakan perusahaan wajib memfasilitasi peningkatan kompetensi tenaga kerja. Selain itu, Permenaker No. 4 Tahun 1987 menegaskan perlunya program pelatihan kerja, tanpa membatasi pelaksanaannya harus eksternal.

Dengan demikian, praktik in house training dapat dianggap sebagai pemenuhan kewajiban hukum untuk mengembangkan kompetensi. Bahkan, dalam sistem sertifikasi profesi, pihak berwenang kerap menerima bukti pelatihan internal jika materinya sahih dan terukur. Jadi, meski tidak disebut “in house training”, kerangka perundangan mengamanatkan peningkatan keterampilan—yang idealnya dilakukan secara internal maupun eksternal.

Mengapa In House Training Penting untuk Perusahaan?

Pernahkah Anda berpikir, mengapa banyak perusahaan besar menyiapkan akademi internal? Jawabannya sederhana: relevansi konten. In house training memungkinkan materi persis sesuai kebutuhan operasional. Sehingga, karyawan tidak membuang waktu pada topik umum yang tak berkaitan langsung dengan tugasnya.

Selain itu, biaya pelatihan bisa ditekan. Dengan memanfaatkan instruktur internal atau membuat modul e‑learning sendiri, perusahaan mengurangi ongkos honor trainer pihak ketiga. Dengan skala besar, efisiensi biaya semakin terlihat nyata. Bukankah semua manajer ingin optimalisasi anggaran sekaligus menghasilkan SDM terampil?

Perbedaan In House Training dan Pelatihan Eksternal

Pertama, dari sisi kurikulum. Pelatihan eksternal umumnya bersifat umum, dirancang untuk pasar luas. Sementara in house training mengangkat isu dan kasus nyata perusahaan. Contohnya, alih-alih belajar negosiasi secara umum, tim sales mempraktekkan roleplay sesuai skenario klien perusahaan.

Kedua, fleksibilitas jadwal. Anda tidak lagi terpaku pada kalender lembaga pelatihan eksternal. Jadwal bisa disesuaikan dengan workload tim. Misalnya, modul e‑learning dapat diikuti karyawan kapan saja, bahkan di sela‑sela rapat internal. Dengan begitu, pelatihan tidak mengganggu operasional, namun tetap berjalan efektif.

Kewajiban Hukum vs Kewajiban Moral

Lalu, apakah in house training benar‑benar wajib? Dari segi hukum, pelatihan umum (non‑K3, non‑sertifikasi profesi) bersifat rekomendasi, bukan kewajiban baku. Namun, moral organisasi menuntut pengembangan berkelanjutan: karyawan yang terus belajar akan meningkatkan inovasi dan daya saing.

Dengan kata lain, kewajiban hukum menuntut “peningkatan kompetensi” tanpa menetapkan spesifikasi. Perusahaan bisa memenuhi dengan training eksternal atau internal. Sementara kewajiban moral—atau komitmen terhadap SDM—melebihkannya ke arah in house training yang terarah dan kontekstual.

Langkah Merancang Program In House Training yang Efektif

1. Analisis Kebutuhan Pelatihan
Mulailah dengan audit kompetensi. Apa gap skill yang ada? Misalnya, tim marketing perlu pemahaman data analytics. Dari situ, bentuk modul dasar hingga lanjutan sesuai level.

2. Desain Kurikulum dan Metodologi
Susun materi dengan alur jelas, lengkap dengan tujuan pembelajaran (learning objectives). Pilih metode: workshop interaktif, e‑learning, atau mentoring.

3. Pelaksanaan dan Fasilitator
Rekrut internal trainer yang kompeten atau undang eksternal sebagai co‑trainer. Support area pelatihan, seperti ruang simulasi, video conference, hingga platform LMS.

4. Evaluasi dan Feedback
Gunakan pre-test dan post-test untuk mengukur kemajuan. Selain itu, kumpulkan umpan balik karyawan: apakah materi relevan dan pembelajaran mudah diakses?

 

 

Membangun Kultur Belajar Berkelanjutan

Budaya belajar tidak muncul dalam semalam. Perusahaan perlu menerapkan in house training sebagai agenda rutin. Misalnya, tiap triwulan adakan “Learning Day” atau sesi sharing antar tim. Akibatnya, karyawan terbiasa mengalokasikan waktu belajar selain tugas utama.

Selanjutnya, incentives juga berperan. Sertifikat internal, badge digital, atau reward kecil dapat meningkatkan partisipasi. Dengan begitu, in house training tidak hanya formalitas, melainkan kegiatan yang dinantikan dan diapresiasi.

Metode Pelatihan In House yang Populer

1. Workshop dan Simulasi
Cocok untuk keterampilan praktis, seperti penggunaan perangkat lunak khusus atau strategi sales. Partisipasi aktif dan studi kasus internal memudahkan transfer pengetahuan.

2. Mentoring dan Coaching
Setiap mentee dipasangkan dengan mentor berpengalaman. Pendekatan ini mempercepat pembelajaran soft skills, seperti leadership atau manajemen konflik.

3. E‑Learning dan Microlearning
Materi modul singkat—video, kuis, dan infografik—memberi fleksibilitas. Karyawan bisa menyelesaikan di sela jam kerja, sehingga in house training tetap berjalan tanpa gangguan besar.

4. Blended Learning
Kombinasi online dan offline, misalnya belajar teori lewat LMS, lalu praktik di workshop. Metode ini memaksimalkan efektivitas dan mengakomodasi gaya belajar beragam.

 

 

Mengukur Efektivitas In House Training

Apakah pelatihan berjalan efektif? Beberapa metrik yang bisa dipantau antara lain:

  • Tingkat Kehadiran: menggambarkan antusiasme.

  • Hasil Test Kompetensi: selisih skor pre-test vs post-test.

  • Penerapan di Lapangan: adakah penurunan kesalahan operasional atau peningkatan kinerja?

  • Umpan Balik Karyawan: survei tingkat kepuasan terhadap materi dan penyampaian.

Analisis data tersebut secara berkala. Jika ditemukan hambatan—misalnya rendahnya partisipasi—tinjau kembali konten dan metode. Dengan evaluasi kontinu, in house training menjadi investasi yang selalu berkembang.

Tantangan dan Solusi Pelaksanaan In House Training

Tantangan

  • Keterbatasan Sumber Daya Internal: tidak semua perusahaan memiliki trainer mumpuni.

  • Waktu dan Beban Kerja: susah menemukan waktu kosong tanpa mengganggu produksi.

  • Motivasi Karyawan: sebagian mungkin menganggap training beban.

Solusi

  • Kolaborasi dengan Expert Eksternal: undang guest speaker untuk materi khusus.

  • Microlearning: potong materi menjadi sesi singkat agar mudah diikuti.

  • Gamifikasi: tambahkan elemen kompetisi atau reward untuk memacu motivasi.

 

 

In House Training sebagai Pilar Pengembangan SDM

In house training bukan sekadar tambahan kegiatan, melainkan strategi utama untuk mengasah kompetensi karyawan sesuai kebutuhan perusahaan. Meskipun secara hukum tidak selalu wajib, praktik ini memenuhi amanat UU Ketenagakerjaan tentang peningkatan keterampilan. Selain itu, in house training memacu inovasi, efisiensi biaya, dan loyalitas karyawan. Dengan perencanaan matang, evaluasi terukur, serta kultur belajar yang kuat, in house training akan menjadi fondasi organisasi yang adaptif dan kompetitif.

Pertanyaan Sering Diajukan:

1. Apakah in house training harus dilakukan setiap bulan?
Tidak ada aturan baku frekuensi. Penschedulean disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas perusahaan, misalnya triwulanan atau semesteran.

2. Bagaimana membuktikan in house training ke pihak berwenang?
Simpan daftar hadir, sertifikat internal, rekaman sesi, serta hasil test pre‑ dan post‑training sebagai dokumentasi.

3. Apa perbedaan utama in house training dan workshop eksternal?
In house training bersifat kustom sesuai konteks perusahaan dengan fleksibilitas jadwal, sedangkan workshop eksternal umumnya lebih umum dan terikat kalender lembaga.

4. Apakah in house training bisa digabung dengan e‑learning?
Bisa. Metode blended learning (gabungan e‑learning dan tatap muka) terbukti efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan retensi pengetahuan.

5. Bagaimana cara mengukur keberhasilan in house training?
Gunakan metrik seperti tingkat kehadiran, selisih skor pre‑post test, penerapan di lapangan, serta survei tingkat kepuasan peserta




VIDEO (VLOG) COACH EDWIN


Jangan lewatkan menonton video dari Coach Edwin tentang Life, Spiritual dan Bisnis untuk mendapatkan manfaatnya.


pelatihan pikiran bawah sadar

Program Kami

 

Jika Anda membutuhkan pembicara terkait motivasi, konsultasi berbagai masalah kehidupan / bisnis, Coach untuk menangani masalah yang Anda hadapi, silahkan konsultasikan kepada kami melalui whatsApp sekarang juga.



Apa Masalah Anda?




WhatsApp