Mixue & Dominasi Rantai Pasok: Ketika Efisiensi Supply Chain Menjadi Keunggulan Kompetitif

Mengapa dua bisnis dapat menjual produk yang terlihat hampir sama, tetapi memiliki kemampuan yang sangat berbeda dalam menentukan harga? Sama-sama menjual minuman. Sama-sama memiliki gerai. Sama-sama membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, menyimpan persediaan, dan mendistribusikan produk.

Namun satu perusahaan memiliki ruang yang cukup besar untuk menawarkan harga kompetitif, sementara perusahaan lain sudah kesulitan menjaga margin meskipun harga jualnya lebih tinggi. Perbedaannya tidak selalu terletak pada produk yang dilihat pelanggan.

Sering kali jawabannya justru berada di belakang toko. Bagaimana bahan dibeli. Berapa besar volume pengadaan. Bagaimana bahan diproduksi. Bagaimana persediaan dipantau. Berapa banyak barang yang terbuang. Seberapa jauh produk harus dikirim. Dan seberapa cepat informasi mengenai kebutuhan setiap gerai dapat bergerak ke dalam sistem.

Karena itu, dalam bisnis ritel, keunggulan kompetitif tidak hanya lahir dari marketing, rasa produk, atau lokasi. Supply chain juga dapat menjadi strategi.

Produk yang Laris Belum Tentu Menghasilkan Bisnis yang Sehat

Ada asumsi sederhana yang sering muncul: Jika penjualan tinggi, bisnis pasti sehat. Padahal belum tentu.

Bayangkan sebuah produk dijual Rp20.000. Secara kasatmata, angka penjualannya mungkin bagus. Tetapi di belakang harga tersebut terdapat bahan baku, transportasi, penyimpanan, tenaga kerja, kemasan, waste, biaya pengiriman antargudang, hingga kerugian karena kehabisan stok.

Jika biaya-biaya itu tidak terkendali, omzet yang besar dapat menghasilkan margin yang sangat tipis. Di sinilah bisnis perlu membedakan antara: produk yang laku dan produk yang menghasilkan nilai ekonomi secara sehat.

Semakin besar jaringan bisnis, persoalannya semakin kompleks. Kesalahan Rp500 pada satu produk mungkin terlihat kecil. Tetapi ketika produk tersebut terjual jutaan kali, ketidakefisienan kecil berubah menjadi angka yang sangat besar.

Sebaliknya, efisiensi kecil yang dapat diterapkan secara konsisten pada seluruh jaringan juga dapat menciptakan keunggulan besar.

Harga Murah Sering Kali Hanya Bagian yang Terlihat

Ketika melihat sebuah brand mampu menjual produk dengan harga kompetitif, reaksi pertama biasanya: “Bagaimana mereka bisa menjual semurah itu?” Lalu perusahaan lain tergoda melakukan hal paling sederhana: ikut menurunkan harga.

Masalahnya, harga adalah hasil akhir. Ia bukan sistem. Jika kompetitor mampu menjual lebih murah karena mempunyai skala pengadaan lebih besar, proses produksi lebih efisien, jaringan distribusi yang lebih terintegrasi, dan standardisasi yang lebih kuat, sekadar meniru harga tidak akan menghasilkan struktur biaya yang sama.

Akibatnya justru berbahaya. Pendapatan per transaksi turun. Margin mengecil. Tetapi biaya di belakangnya tidak berubah. Karena itu, sebelum memasuki perang harga, pertanyaan pertama yang seharusnya diajukan bukan: “Berapa harga kompetitor?” Melainkan: “Sistem seperti apa yang memungkinkan kompetitor menjual pada harga tersebut?”

Strategi Supply Chain Mixue Menarik untuk Dipelajari

Di sinilah strategi supply chain Mixue memberikan kasus yang menarik. Bagi konsumen, MIXUE mungkin terlihat sebagai jaringan gerai es krim dan minuman dengan harga yang mudah dijangkau.

Tetapi dari perspektif sistem bisnis, jaringan toko hanyalah bagian depan dari arsitektur yang jauh lebih besar.

Dalam Annual Report 2025, MIXUE Group menjelaskan bahwa salah satu kompetensi intinya dibangun melalui kombinasi supply chain, brand IP, dan store operations, dengan tujuan mencapai overall cost leadership. Supply chain tersebut mencakup procurement, production, logistics, R&D, serta quality control dan terus diperkuat melalui digitalisasi.

Ini memberikan perspektif berbeda. Keunggulan bukan hanya dibangun ketika barista menyerahkan produk kepada pelanggan. Keunggulan sudah mulai dibangun jauh sebelumnya.

Saat perusahaan membeli bahan. Saat bahan masuk ke pabrik. Saat produk bergerak menuju gudang. Saat kebutuhan gerai diprediksi. Dan saat setiap outlet memperoleh pasokan dengan standar yang sama.

Skala Pengadaan Mengubah Struktur Biaya

Salah satu keuntungan bisnis berskala besar adalah purchasing power. Sebuah outlet yang membeli bahan dalam jumlah kecil memiliki posisi tawar berbeda dengan organisasi yang membeli dalam volume sangat besar.

Semakin besar volume pembelian yang dapat dikonsolidasikan, semakin besar pula peluang perusahaan untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif, mengunci kontrak pasokan, mengurangi variasi supplier, dan menstandardisasi kualitas.

MIXUE Group menyatakan bahwa jaringan procurement globalnya telah terhubung hingga ke sumber bahan baku. Perusahaan juga mengatakan skala pengadaannya memungkinkan sejumlah bahan inti diperoleh dengan harga di bawah rata-rata industri.

Prinsip ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk perusahaan raksasa. Bisnis yang jauh lebih kecil pun dapat mempelajarinya.

Masalahnya, banyak organisasi masih melakukan pembelian secara reaktif.

  • Stok hampir habis. Baru membeli.
  • Supplier terlambat. Mencari supplier lain.
  • Harga naik. Tetap dibeli karena tidak ada alternatif.

Akhirnya purchasing berfungsi sebagai pemadam kebakaran, bukan sebagai fungsi strategis. Padahal procurement yang baik bukan sekadar mendapatkan barang.

Procurement membantu organisasi mendapatkan barang yang tepat, kualitas yang tepat, harga yang sehat, dari pemasok yang dapat diandalkan, pada waktu yang dibutuhkan.

Produksi Sendiri Bukan Tujuan, tetapi Pilihan Strategis

Garis besar Mixue juga menarik pada sisi produksi. Dalam laporan 2025, MIXUE Group menyatakan telah memiliki lima basis produksi di Henan, Hainan, Guangxi, Chongqing, dan Anhui. Perusahaan juga menyebut 100% core ingredients diproduksi sendiri melalui sistem supply chain terintegrasinya.

Apakah ini berarti setiap bisnis seharusnya membangun pabrik sendiri? Tidak. Justru di sinilah pelajarannya perlu dipahami dengan hati-hati. Vertical integration adalah pilihan strategis, bukan tujuan universal.

Untuk bisnis tertentu, membeli dari supplier jauh lebih efisien. Untuk bisnis lain, volume dan kebutuhan kontrolnya mungkin sudah cukup besar sehingga sebagian proses perlu diinternalisasi.

Pertanyaannya bukan: “Haruskah kita memproduksi sendiri?” Tetapi: “Pada bagian mana dari rantai nilai kita membutuhkan kontrol yang lebih besar?” Bisa jadi bahan utama. Bisa jadi packaging. Bisa jadi warehouse. Bisa juga teknologi distribusi. Setiap bisnis memiliki titik kontrol yang berbeda.

Supply Chain Juga Menentukan Konsistensi Kualitas

Efisiensi sering disalahartikan sebagai upaya menekan biaya sebanyak mungkin. Padahal supply chain yang baik bukan sekadar mengejar harga termurah. Ia juga menjaga kualitas.

Supplier yang murah tetapi sering menghasilkan bahan yang tidak konsisten dapat menciptakan biaya tersembunyi.

  • Produk gagal.
  • Komplain pelanggan.
  • Waste meningkat.
  • Produksi harus diulang.
  • Waktu tim terbuang.
  • Reputasi ikut terkena dampaknya.

Itulah mengapa cost dan quality tidak seharusnya dipertentangkan. MIXUE Group menyatakan menggunakan sistem manajemen supply chain yang terdigitalisasi untuk menjalankan kontrol kualitas dari direct sourcing, proses produksi, hingga logistics.

Artinya, efisiensi terbaik bukan sekadar: “Bagaimana mendapatkan bahan lebih murah?” Tetapi: “Bagaimana mendapatkan kualitas yang konsisten dengan total cost yang semakin sehat?”

Gerai yang Banyak Membutuhkan Visibilitas yang Semakin Tinggi

Skala membawa peluang. Tetapi skala juga membawa risiko. Semakin banyak outlet, semakin banyak titik yang harus dipantau.

  • Berapa stok yang tersedia?
  • Outlet mana yang bergerak lebih cepat?
  • Produk apa yang paling banyak digunakan?
  • Barang mana yang mulai mendekati masa simpan?
  • Kapan gudang perlu melakukan replenishment?

Jika informasi tersebut lambat, keputusan supply chain juga terlambat. Akibatnya dapat muncul dua kondisi ekstrem. Stockout. Barang yang dibutuhkan tidak tersedia sehingga penjualan hilang. 

Atau: overstock. Barang terlalu banyak tersimpan sehingga modal tertahan dan risiko waste meningkat. Karena itu, salah satu kemampuan penting dalam supply chain modern adalah visibility.

Organisasi perlu mengetahui bukan hanya apa yang telah terjadi, tetapi juga apa yang kemungkinan dibutuhkan berikutnya. Data penjualan, inventory, lead time, forecast, dan kemampuan supplier perlu dihubungkan.

Semakin cepat informasi bergerak, semakin cepat organisasi dapat membuat keputusan.

59.785 Gerai Membuat Supply Chain Menjadi Infrastruktur Bisnis

Skala MIXUE Group membantu menjelaskan mengapa fungsi supply chain begitu strategis.

Pada akhir 2025, grup melaporkan 59.785 franchised stores, meningkat dari 46.462 pada akhir 2024. Angka tersebut merupakan jaringan franchise grup dan pada akhir 2025 juga mencakup gerai FULU Fresh Beer yang diperoleh melalui akuisisi pada tahun tersebut.

Pada skala seperti itu, supply chain bukan lagi sekadar departemen pendukung. Ia menjadi infrastruktur bisnis.

Bayangkan apabila setiap franchise harus:

  • mencari supplier sendiri,
  • memilih standar bahan sendiri,
  • membeli peralatan sendiri,
  • menentukan packaging sendiri,
  • dan menyelesaikan masalah pasokan sendiri.

Skala besar justru akan menciptakan variasi yang sangat besar. Karena itu, standardisasi memungkinkan jaringan bertambah tanpa seluruh sistem berubah menjadi ribuan versi yang berbeda.

Mixue Bukan Hanya Menghasilkan Pendapatan dari Franchise Fee

Ada satu bagian dari model bisnis MIXUE Group yang sangat menarik jika dilihat dari perspektif supply chain.

Franchisee tidak hanya menggunakan mereknya. Dalam operasionalnya, franchisee juga membeli store supplies dan equipment dari grup. Perusahaan menyatakan franchise fee dan layanan terkait hanya berkontribusi sekitar 2,4% dari revenue 2025.

Laporan keuangannya menunjukkan pada 2025: penjualan goods sekitar RMB31,44 miliar, equipment sekitar RMB1,33 miliar, sementara total revenue mencapai sekitar RMB33,56 miliar. Artinya, secara ekonomi MIXUE Group bukan hanya perusahaan yang memperluas logo melalui franchise.

Supply chain menjadi bagian material dari cara perusahaan menghasilkan revenue. Semakin besar jaringan franchise, semakin penting kemampuan perusahaan memasok bahan dan peralatan secara stabil.

Ini memperlihatkan satu prinsip menarik: dalam model bisnis tertentu, supply chain bukan cost center semata. Supply chain dapat menjadi bagian dari value proposition sekaligus revenue architecture.

Efisiensi Supply Chain Tidak Sama dengan Menekan Supplier

Ketika berbicara tentang efisiensi, perusahaan sering langsung berpikir mengenai negosiasi harga. “Bisakah supplier memberikan diskon lagi?”

Padahal menekan harga supplier terus-menerus tidak otomatis menghasilkan supply chain yang sehat.

Efisiensi dapat muncul dari banyak tempat. Forecast yang lebih akurat. Volume pembelian yang dikonsolidasikan. Rute pengiriman yang lebih baik. Packaging yang lebih efisien. Waste yang berkurang. Jumlah SKU yang disederhanakan. Lead time yang lebih singkat. Inventory yang lebih terkendali. Standardisasi spesifikasi.

Atau koordinasi yang lebih baik antara sales, purchasing, warehouse, dan finance. Dengan kata lain, cost efficiency adalah hasil sistem, bukan sekadar kemampuan purchasing melakukan tawar-menawar.

People & System Alignment dalam Supply Chain

Supply chain sering terlihat seperti persoalan logistik. Padahal di balik setiap aliran barang terdapat aliran keputusan manusia.

Sales membuat forecast. Purchasing menentukan jumlah pembelian. Finance menjaga cash flow. Warehouse mengelola inventory. Operasional menggunakan bahan. Management menentukan kebijakan stock. Supplier membutuhkan informasi permintaan.

Jika setiap fungsi hanya mengejar KPI masing-masing, muncul masalah. Sales ingin stok sebanyak mungkin agar tidak kehilangan penjualan. Finance ingin inventory serendah mungkin agar uang tidak tertahan. Purchasing ingin membeli dalam volume besar agar harga lebih murah. Warehouse ingin SKU lebih sedikit agar mudah dikelola.

Semua logis jika dilihat secara lokal. Tetapi hasil terbaik bagi masing-masing fungsi belum tentu menghasilkan hasil terbaik bagi perusahaan. Di sinilah People & System Alignment menjadi penting. Pertanyaannya bukan siapa yang benar.

Pertanyaannya: “Apa hasil akhir yang sedang kita optimalkan bersama?”

Critical to Quality: Efisiensi dan Visibilitas Rantai Pasok

Bagi bisnis yang ingin bertumbuh, dua hal sangat penting: efisiensi dan visibility. Efisiensi membantu perusahaan mengendalikan total cost. Visibility membantu perusahaan mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Keduanya saling berhubungan. Tanpa visibility, perusahaan sulit mengetahui titik pemborosan. Tanpa ukuran efisiensi, data hanya berubah menjadi laporan. Karena itu organisasi perlu memiliki indikator seperti:

  • tingkat inventory,
  • lead time,
  • stockout,
  • waste,
  • supplier performance,
  • forecast accuracy,
  • dan total landed cost.

Bukan untuk menambah dashboard. Tetapi agar keputusan bisnis dibuat berdasarkan kondisi sistem yang nyata.

Jangan Melawan Harga Murah Hanya dengan Harga yang Lebih Murah

Inilah salah satu pelajaran terpenting dari kasus Mixue. Ketika pesaing menawarkan harga sangat kompetitif, reaksi terbaik bukan selalu menurunkan harga. Sebelum itu, pahami arsitektur biaya kompetitor dan arsitektur biaya Anda sendiri.

  • Apakah persoalannya terdapat pada bahan baku?
  • Volume?
  • Logistik?
  • Waste?
  • Produktivitas?
  • Jumlah SKU?
  • Negosiasi supplier?
  • Atau model bisnisnya memang berbeda?

Jika struktur biaya berbeda, perusahaan mungkin membutuhkan strategi kompetisi yang berbeda pula. Bisa melalui diferensiasi. Service. Premium experience. Niche. Convenience. Customization. Atau efisiensi internal.

Karena perang harga melawan bisnis dengan struktur biaya yang jauh lebih efisien dapat menjadi pertandingan yang salah sejak awal.

Supply Chain Is Strategy

Bayangkan bisnis seperti sebuah benteng di tengah gurun. Bangunannya megah. Dindingnya tinggi. Senjatanya lengkap. Namun benteng tersebut tidak memiliki sumber air sendiri. Selama jalur pasokan dari luar berjalan lancar, semuanya terlihat baik. Tetapi ketika suplai terganggu, kekuatan yang terlihat dari luar mulai kehilangan arti.

Begitu pula bisnis. Brand dapat kuat. Marketing dapat viral. Produk dapat disukai.

Namun jika bahan tidak tersedia, biaya tidak terkendali, inventory tidak terlihat, dan supply chain terlalu rapuh terhadap gangguan, pertumbuhan dapat berhenti dengan cepat.

MIXUE Group sendiri mengakui supply chain sebagai salah satu risiko materialnya: apabila perusahaan tidak mampu menjamin pasokan store supplies dan equipment yang cukup, stabil, dan tepat waktu, atau terjadi gangguan supply chain, bisnis dapat terdampak secara material.

Supply chain karena itu bukan aktivitas di belakang layar yang hanya perlu dibicarakan ketika barang terlambat. Supply chain adalah keputusan strategi.

Audit HPP: Jangan Hanya Melihat Harga Beli

Banyak business owner merasa sudah mengetahui HPP karena mengetahui harga bahan. Padahal true cost dapat lebih besar. Harga beli bahan hanya satu bagian.

Ada biaya transportasi. Handling. Penyimpanan. Kerusakan. Waste. Urgent purchasing. Stockout. Minimum order. Modal kerja yang tertahan dalam inventory.

Pertanyaan yang menarik untuk direnungkan adalah: Berapa persen HPP produk Anda sebenarnya berasal dari biaya pembelian, logistik, penyimpanan, waste, dan ketidakefisienan yang belum pernah diaudit?

Jawabannya mungkin mengejutkan. Karena pemborosan sering tidak hadir sebagai satu angka besar. Ia tersebar dalam puluhan transaksi kecil.

Satu Tindakan: Audit Satu Produk Utama

Tidak perlu memulai transformasi supply chain dengan proyek besar. Ambil satu produk yang paling sering terjual.

Kemudian petakan alirannya: Harga bahan baku → transportasi → penerimaan → penyimpanan → proses → waste → stockout → HPP sebenarnya.

Cari satu titik pemborosan terbesar. Mungkin supplier. Mungkin jumlah pembelian. Mungkin bahan terbuang. Mungkin stok terlalu tinggi. Mungkin terlalu sering melakukan pembelian darurat.

Kemudian pilih satu perbaikan yang realistis dilakukan dalam 30 hari. Supply chain yang kuat tidak selalu dibangun melalui proyek spektakuler. Sering kali ia dibangun dari ratusan keputusan kecil yang semakin disiplin.

Kesimpulan

Pelajaran dari Mixue bukan bahwa semua bisnis harus memiliki pabrik sendiri.

Bukan pula bahwa semua bisnis harus membeli bahan dalam volume sangat besar atau membangun jaringan warehouse sendiri.

Model bisnis, ukuran perusahaan, modal, dan kebutuhan setiap organisasi berbeda.

Yang menarik dari strategi supply chain Mixue adalah bagaimana procurement, produksi, logistik, standardisasi, digitalisasi, dan jaringan franchise ditempatkan sebagai bagian dari arsitektur daya saing, bukan sekadar fungsi pendukung.

Pada akhir 2025, MIXUE Group telah membangun jaringan hampir 60.000 gerai secara global dan menyebut supply chain sebagai salah satu pilar utama untuk mencapai kualitas, value for money, dan cost leadership.

Bagi bisnis lain, skalanya mungkin berbeda. Namun prinsipnya tetap relevan. Jangan hanya mengelola apa yang terlihat pelanggan.

Kelola pula sistem yang memungkinkan produk tersebut tersedia pada waktu yang tepat, dengan kualitas yang konsisten, dan biaya yang terkendali.

Sebab harga yang kompetitif tidak selalu dimulai dari strategi diskon. Sering kali ia dimulai jauh lebih awal: dari keputusan pengadaan, perencanaan inventory, pemilihan supplier, desain proses, hingga disiplin membaca data. Karena Supply Chain Is Strategy.


Tentang Akeyodia

Akeyodia adalah People & System Alignment Expert yang membantu business owner, pemimpin, dan organisasi menyelaraskan manusia, proses kerja, sistem, serta arah pertumbuhan melalui Business Coaching, Leadership Development, Employee Training, dan Organization Alignment.

Dalam pengelolaan bisnis, tantangan supply chain tidak hanya berkaitan dengan supplier atau logistik. Persoalan sering muncul dari ketidakselarasan antara sales, purchasing, warehouse, finance, operasional, dan management dalam menentukan prioritas dan mengambil keputusan.

Melalui proses Business Coaching dan Organization Alignment, Akeyodia membantu organisasi melihat sistem bisnis secara menyeluruh: di mana terjadi ketergantungan, pemborosan, ketidakjelasan tanggung jawab, maupun proses yang belum mendukung pertumbuhan.

Karena keunggulan bisnis tidak hanya ditentukan oleh produk yang hebat.

Keunggulan juga ditentukan oleh seberapa kuat sistem di belakang produk tersebut mampu bekerja secara konsisten, efisien, dan selaras.

About Administrator

View all posts by Administrator

Postingan Terkait