Kisah Inspiratif: Transformasi Bisnis UMKM dari Kerajinan ke Skincare Minyak Nilam

Ketika Bertumbuh Bukan Berarti Menambah, tetapi Berani Memilih Fokus yang Lebih Tepat

Tidak semua bisnis bertumbuh dengan cara menambah produk, menambah cabang, atau mempertahankan usaha yang sudah lama dijalankan. Kadang pertumbuhan justru dimulai ketika pemilik usaha berani mengatakan: “Mungkin saya tidak harus meneruskan semuanya.”

Keputusan tersebut tidak mudah. Ada waktu yang sudah diinvestasikan. Ada produk yang pernah dibangun. Ada nama yang sudah dikenal. Ada rasa sayang terhadap usaha yang menemani perjalanan selama bertahun-tahun.

Namun bisnis tidak hanya membutuhkan kegigihan untuk bertahan. Bisnis juga membutuhkan kejernihan untuk mengetahui apa yang layak diteruskan, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang saatnya ditinggalkan.

Perjalanan Rohmasari, yang sebelumnya menjalankan Beecraft dan kini memusatkan perhatian pada Rokasye Rona, brand perawatan kulit berbasis minyak nilam memberikan gambaran menarik tentang hal tersebut.

Ini bukan sekadar cerita mengganti nama usaha.

Ini adalah cerita tentang transformasi bisnis UMKM ketika seorang entrepreneur mulai melihat bisnis dari masalah konsumen, kekuatan sumber daya, dan peluang pasar, bukan hanya dari produk yang sudah telanjur dimiliki.

Beecraft: Ketika Kreativitas Menjadi Titik Awal Perjalanan

Jejak publik Beecraft menunjukkan bahwa bisnis ini sebelumnya bergerak di bidang kerajinan.

Beecraft ini adalah usaha milik Rohma Sari Saragih yang mengembangkan produk kerajinan. Perjalanannya dimulai dari keterampilan menjahit, lalu berkembang ke eksplorasi bahan lainnya.

Artinya, kreativitas dan kemampuan menciptakan produk sebenarnya sudah menjadi bagian dari perjalanan bisnis Rohma sejak awal.

Namun memiliki kemampuan membuat produk tidak otomatis berarti produk tersebut harus menjadi bisnis utama selamanya.

Pasar berubah. Kondisi keluarga berubah. Akses terhadap sumber daya berubah. Pemahaman entrepreneur tentang bisnis juga berkembang.

Di sinilah seorang pemilik usaha perlu membedakan antara mencintai produk dan membangun bisnis yang relevan. Keduanya tidak selalu sama.

Pivot Bisnis Bukan Berarti Gagal

Dalam testimoni yang dibagikan di grup WUBI Batch IV 2025 KPw Bank Indonesia Pematangsiantar, Rohmasari menceritakan bahwa ia kemudian memutuskan untuk tidak lagi menjalankan Beecraft dan memilih fokus pada produk turunan minyak nilam.

Keputusan tersebut mempunyai konteks yang menarik. Suaminya merupakan petani sekaligus penyuling nilam.

Artinya, di lingkungan terdekatnya sebenarnya terdapat sebuah aset yang berbeda dari bisnis sebelumnya: akses langsung terhadap komoditas, pengetahuan tentang bahan baku, dan proses di sisi hulu.

Banyak entrepreneur mencari peluang terlalu jauh. Padahal kadang keunggulan potensial justru berada sangat dekat:

  • keahlian keluarga,
  • bahan baku daerah,
  • jaringan yang sudah dimiliki,
  • pengetahuan khusus,
  • atau persoalan yang ditemui setiap hari.

Dalam strategi bisnis, berpindah arah seperti ini bukan otomatis berarti usaha lama gagal.

Pivot dapat menjadi keputusan untuk mengalokasikan energi pada model bisnis yang dianggap memiliki kesesuaian lebih kuat dengan sumber daya dan peluang yang tersedia.

Pertanyaannya bukan: “Kenapa meninggalkan bisnis yang lama?”

Pertanyaan yang lebih produktif adalah: “Di mana kemampuan dan sumber daya yang kita miliki dapat menciptakan nilai yang lebih relevan?”

Rokasye Rona dan Potensi Nilam sebagai Identitas Produk

Kini Rokasye Rona hadir sebagai brand perawatan kulit dan wajah dengan minyak nilam atau patchouli oil sebagai salah satu identitas utamanya.

Pemilihan nilam sendiri menarik secara bisnis.

Patchouli oil berasal dari tanaman Pogostemon cablin. Kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam Flavour and Fragrance Journal mencatat minyak nilam sebagai bahan penting dalam industri fragrance dan juga digunakan dalam berbagai produk kosmetik. Kajian tersebut juga mencatat Indonesia sebagai produsen yang sangat dominan dalam pasokan minyak nilam dunia pada periode yang ditelitinya.

Namun bagi sebuah brand lokal, nilai nilam tidak hanya terletak pada bahan bakunya.

Ada cerita yang dapat dibangun:

  • produk lokal,
  • hasil pertanian,
  • proses penyulingan,
  • keterhubungan dengan daerah,
  • serta perjalanan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.

Inilah titik ketika sebuah komoditas dapat mulai bergerak menuju brand value. Nilam tidak lagi hanya dijual sebagai minyak. Ia diolah, diberi positioning, dikemas, dan dibawa lebih dekat kepada konsumen akhir.

Bisnis Mulai Berubah ketika Fokus Bergeser dari Produk ke Masalah

Salah satu bagian paling menarik dari testimoni Rohmasari adalah perubahan cara melihat bisnis.

Ia menyebut mulai menjalankan konsep yang diperoleh selama proses pendampingan di WUBI Batch IV, yaitu: bisnis perlu mengatasi masalah orang dan memberikan hasil yang dapat dirasakan pelanggan.

Kalimat tersebut sederhana. Namun dampaknya sangat besar. Banyak UMKM memulai dari: “Saya bisa membuat apa?” Lalu menghasilkan produk dan berusaha keras mencari siapa yang mau membelinya.

Pendekatan yang lebih kuat justru dimulai dari: “Masalah siapa yang ingin saya bantu selesaikan?” Barulah kemudian bisnis menentukan produk, komunikasi, channel, harga, dan pengalaman pelanggan.

Perubahan perspektif ini membuat entrepreneur tidak terlalu terikat pada bentuk produk. Produk dapat berubah. Kemasan dapat berubah. Channel dapat berubah. Bahkan brand dapat berubah. Yang dijaga adalah relevansi nilai kepada pelanggan.

Dari Produksi ke Pasar: Belajar Menjual secara Digital

Transformasi Rohmasari tidak hanya terjadi pada produk. Channel penjualannya juga berubah. Dalam testimoninya, ia menceritakan bahwa pada sekitar bulan kedua ia mulai aktif melakukan live, kemudian pada sekitar bulan keempat mulai berjualan melalui marketplace.

Ini penting. Salah satu kesalahan UMKM adalah mengira bahwa setelah mempunyai produk bagus, pasar akan datang dengan sendirinya. Tidak.

Produk membutuhkan distribusi. Distribusi membutuhkan visibility. Visibility membutuhkan komunikasi. Dan komunikasi digital membutuhkan kemampuan baru.

Live commerce, marketplace, short video, copywriting, iklan digital, hingga customer service online bukan sekadar aktivitas tambahan. Bagi banyak UMKM, kanal-kanal tersebut sudah menjadi bagian dari go-to-market system.

Bank Indonesia sendiri menempatkan inovasi dan digitalisasi sebagai bagian dari pengembangan UMKM, bersama akses pasar, akses pembiayaan, penguatan kapasitas manajerial, dan jejaring pengetahuan. Program Wirausaha Bank Indonesia juga menjadi salah satu bagian dari ekosistem pengembangan tersebut.

Jadi UMKM naik kelas bukan hanya ketika produksinya meningkat. UMKM naik kelas ketika cara menemukan dan melayani pelanggan juga semakin matang.

Fokus Sering Kali Lebih Bernilai daripada Terlalu Banyak Produk

Ada godaan besar ketika menjalankan UMKM: melakukan semuanya sekaligus.

Bisnis lama dipertahankan. Produk baru diluncurkan. Marketplace dibuka. Live dijalankan. Pameran diikuti. Media sosial dikerjakan. Akhirnya energi entrepreneur tersebar ke terlalu banyak arah.

Keputusan Rohmasari untuk menghentikan Beecraft dan memusatkan perhatian pada Rokasye Rona menawarkan pelajaran yang berbeda: fokus juga merupakan strategi pertumbuhan.

Ketika sumber daya terbatas, pertanyaan terpenting bukan berapa banyak peluang yang tersedia. Pertanyaannya adalah: peluang mana yang paling layak mendapatkan energi terbaik kita?

UMKM umumnya mempunyai keterbatasan modal, orang, waktu, dan perhatian owner.

Karena itu, fokus membantu bisnis:

  • memperdalam pemahaman pelanggan,
  • memperbaiki produk lebih cepat,
  • membangun komunikasi yang konsisten,
  • dan mengalokasikan modal pada prioritas yang lebih jelas.

Kadang keberanian entrepreneur bukan keberanian menambah. Kadang keberanian terbesar justru berhenti mengerjakan hal yang tidak lagi menjadi prioritas.

Aset Lokal Bisa Menjadi Keunggulan jika Diubah Menjadi Sistem

Memiliki akses kepada nilam belum otomatis menjadi keunggulan kompetitif. Bahan baku tetap harus diubah menjadi sistem bisnis.

  • Bagaimana kualitas bahan dijaga?
  • Bagaimana formulasi dikembangkan?
  • Bagaimana produksi distandardisasi?
  • Bagaimana stok direncanakan?
  • Bagaimana produk memenuhi ketentuan?
  • Bagaimana klaim pemasaran disampaikan secara bertanggung jawab?
  • Bagaimana pengalaman pelanggan dijaga ketika volume meningkat?

Untuk kosmetik, aspek kepatuhan juga tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan. BPOM menjelaskan bahwa kosmetika yang diedarkan di Indonesia harus memiliki izin edar berupa notifikasi, dan pelaku usaha bertanggung jawab terhadap keamanan, mutu, serta klaim produk.

Artinya, naik kelas dari bahan lokal menjadi brand skincare bukan hanya soal kreativitas. Ia membutuhkan produk, sistem, regulasi, pemasaran, dan kepercayaan yang tumbuh bersama. Di sinilah transformasi bisnis menjadi lebih serius.

Belajar Mengubah Aktivitas Menjadi Eksperimen Bisnis

Aktif live TikTok bukan sekadar “harus rajin live”. Masuk Shopee bukan hanya “harus punya toko online”.

Setiap aktivitas sebaiknya menjadi eksperimen.

  • Live mana yang menghasilkan percakapan paling banyak?
  • Pertanyaan apa yang sering ditanyakan calon pembeli?
  • Produk mana yang paling mudah dipahami?
  • Konten seperti apa yang membuat orang berhenti melihat?
  • Apa alasan konsumen membeli ulang?
  • Mengapa ada orang yang melihat tetapi tidak membeli?

Ketika entrepreneur mulai membaca aktivitas melalui pertanyaan semacam ini, marketing berubah dari rutinitas menjadi proses belajar tentang pelanggan. UMKM tidak harus langsung mempunyai sistem analytics yang kompleks.

Namun mereka perlu membangun kebiasaan: coba → ukur → pelajari → perbaiki. Itulah salah satu perbedaan antara bisnis yang hanya sibuk dengan bisnis yang terus belajar.

WUBI: Pendampingan Tidak Berarti Bisnis Dijalankan oleh Coach-nya

Program WUBI Batch IV 2025 KPw Bank Indonesia Pematangsiantar sendiri diikuti 30 UMKM setelah proses seleksi, bootcamp, dan pendampingan intensif sekitar tiga bulan. Sejumlah pemberitaan lokal melaporkan peningkatan rata-rata omzet peserta selama periode pendampingan serta keterlibatan Coach Edwin Indarto dan tim Akeyodia dalam proses pembinaan entrepreneur.

Tetapi ada satu hal penting dari testimoni Rohmasari: ia tidak mengatakan bahwa perubahan terjadi hanya karena rajin mengikuti program. Ia mengatakan ilmu yang diterapkan mulai memberikan hasil.

Perbedaannya sangat besar. Training menyediakan perspektif. Coach membantu membuka pilihan dan memberikan kerangka berpikir.

Namun pada akhirnya entrepreneur tetap harus melakukan:

  • live pertama,
  • membuka marketplace,
  • mengubah produk,
  • mengambil keputusan,
  • menanggung risiko,
  • dan terus belajar dari respons pasar.

Pengetahuan tidak mengubah bisnis sampai pengetahuan tersebut berubah menjadi tindakan.

Transformasi Bisnis Sering Dimulai dari Keputusan yang Tidak Nyaman

Banyak cerita pertumbuhan bisnis terdengar indah ketika diceritakan setelah berhasil. Tetapi pada saat keputusan dibuat, situasinya sering tidak sesederhana itu. Menghentikan usaha yang pernah dibangun membutuhkan keberanian. Berpindah ke kategori baru membutuhkan proses belajar.

Masuk ke skincare membawa tuntutan sistem dan regulasi yang berbeda. Menjual secara digital menuntut kompetensi baru.

Dan hasil dari sebuah pivot tidak pernah bisa dijamin hanya berdasarkan semangat.

Karena itu, pelajaran dari perjalanan Beecraft menuju Rokasye Rona bukan: “Setiap orang harus meninggalkan bisnis lamanya.”

Justru sebaliknya.

Pelajarannya adalah: entrepreneur perlu berani mengevaluasi bisnis berdasarkan realitas, bukan hanya keterikatan emosional.

  • Apa yang sebenarnya tumbuh?
  • Apa yang dibutuhkan pasar?
  • Apa aset yang kita miliki?
  • Di mana kita memiliki alasan kuat untuk bermain?
  • Apa yang perlu dihentikan agar fokus dapat dibangun?

Kesimpulan

Perjalanan dari Beecraft menuju Rokasye Rona menunjukkan satu sisi penting dari transformasi bisnis UMKM.

Bisnis tidak selalu tumbuh dalam garis lurus.

Kadang seorang entrepreneur perlu melewati beberapa bentuk usaha sebelum menemukan kombinasi yang lebih sesuai antara kekuatan diri, sumber daya, masalah pelanggan, dan peluang pasar.

  • Beecraft membangun pengalaman kreativitas dan entrepreneurship.
  • Pendampingan membuka perspektif baru mengenai bisnis.
  • Digital channel membuka cara baru bertemu konsumen.
  • Sementara kedekatan dengan ekosistem nilam membuka kemungkinan penciptaan nilai dari sumber daya yang berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar membuat produk. Tantangannya adalah membangun Rokasye sebagai sistem bisnis yang relevan, dipercaya, taat regulasi, mampu menemukan pelanggan, dan dapat bertumbuh secara sehat.

Sebab transformasi terbesar seorang entrepreneur sering kali bukan ketika omzet berubah. Transformasi terbesar terjadi ketika cara berpikirnya berubah dari:“Apa lagi yang bisa saya jual?”

Menjadi: “Masalah apa yang bisa saya selesaikan dengan kekuatan yang benar-benar saya miliki?” Dari sana, bisnis mulai mempunyai arah.


Tentang Akeyodia

Akeyodia adalah People & System Alignment Expert yang membantu entrepreneur, business owner, leader, dan organisasi menyelaraskan manusia, cara berpikir, strategi, sistem kerja, dan arah pertumbuhan melalui Business Coaching, Leadership Development, Employee Training, dan Organization Alignment.

Dalam pendampingan UMKM, pertumbuhan tidak selalu berarti membuat bisnis menjadi lebih besar secepat mungkin. Ada fase ketika entrepreneur perlu mengenali kembali kekuatannya, menguji relevansi produk, memperjelas pasar, membangun channel digital, dan berani mengambil keputusan tentang apa yang perlu diteruskan maupun dihentikan.

Perjalanan seperti Beecraft menuju Rokasye menunjukkan bahwa coaching tidak menggantikan kerja seorang entrepreneur. Coaching membantu memperjelas pilihan agar tindakan yang dilakukan memiliki arah yang lebih kuat.

Karena bisnis yang bertumbuh bukan bisnis yang tidak pernah berubah arah.

Bisnis yang bertumbuh adalah bisnis yang terus belajar sampai menemukan cara terbaik untuk menciptakan nilai.

 

About Administrator

View all posts by Administrator

Postingan Terkait