Perguruan tinggi dapat memiliki kurikulum yang baik, fasilitas yang lengkap, teknologi yang terus diperbarui, dan prosedur pelayanan yang semakin rapi. Namun pada akhirnya, kualitas sebuah institusi tetap sangat dipengaruhi oleh manusia yang menjalankan seluruh sistem tersebut.
- Bagaimana dosen menghadapi perubahan?
- Bagaimana tenaga kependidikan berkomunikasi ketika menghadapi persoalan?
- Bagaimana seseorang tetap memberikan pelayanan yang baik ketika tekanan meningkat?
- Bagaimana tim yang terdiri dari berbagai fungsi mampu bergerak menuju tujuan yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat capacity building dosen dan tenaga kependidikan menjadi lebih dari sekadar kegiatan penyegaran. Pengembangan kapasitas perlu menyentuh kemampuan personal dan interpersonal yang menentukan bagaimana seseorang berpikir, bekerja sama, mengambil tanggung jawab, beradaptasi, dan memberikan nilai kepada stakeholder.
Di dunia kerja yang berubah cepat, kompetensi teknis tetap penting. Tetapi kemampuan teknis saja tidak selalu cukup.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan resilience, flexibility and agility, leadership and social influence, motivation and self-awareness, empathy and active listening, hingga service orientation sebagai kemampuan penting bagi tenaga kerja. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi justru berjalan beriringan dengan semakin pentingnya kemampuan manusia untuk beradaptasi dan bekerja bersama orang lain.
Maka pengembangan SDM tidak cukup hanya bertanya: “Apa yang perlu diketahui seseorang?”
Pertanyaan berikutnya adalah: “Siapa yang perlu ia menjadi agar pengetahuan tersebut benar-benar menghasilkan dampak?”
Kompetensi Profesional Dimulai dari Kemampuan Mengenali Diri
Seseorang dapat memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak selalu menyadari kekuatan yang dimilikinya. Ada yang sebenarnya mampu memimpin, tetapi memilih diam karena kurang percaya diri. Ada yang mampu membangun relasi dengan sangat baik, tetapi merasa kemampuannya tidak penting karena tidak bersifat teknis. Ada pula yang berpengalaman menghadapi banyak persoalan, tetapi tidak pernah mengubah pengalaman tersebut menjadi sumber pembelajaran.
Di sinilah self-awareness menjadi penting.
Mengenali kekuatan diri bukan berarti merasa sudah cukup baik. Justru dengan memahami kemampuan, nilai, pola respons, serta area yang masih perlu dikembangkan, seseorang dapat mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap pertumbuhannya.
Pengembangan diri menjadi lebih berarti ketika seseorang mampu menghubungkan apa yang ia yakini, apa yang ia lakukan, dan hasil seperti apa yang ingin ia kontribusikan.
Human Skill Membuat Kompetensi Teknis Lebih Bernilai
Bayangkan dua orang memiliki kemampuan teknis yang sama baiknya. Keduanya memahami pekerjaan. Keduanya berpengalaman. Keduanya mampu menyelesaikan tugas. Namun ketika terjadi masalah, orang pertama sulit menerima masukan, mudah defensif, dan cenderung menunggu arahan.
Orang kedua mampu mendengarkan, menjaga komunikasi, mengelola respons emosional, serta mencari alternatif bersama tim.
Pada situasi normal, perbedaannya mungkin tidak terlalu terlihat. Tetapi ketika lingkungan berubah, perbedaan tersebut menjadi sangat besar. Inilah kekuatan human skill.
Kemampuan bekerja tidak hanya berkaitan dengan apa yang seseorang kerjakan. Ia juga menyangkut bagaimana seseorang membawa dirinya ketika bekerja dengan orang lain.
- Kemampuan mendengar.
- Berkomunikasi.
- Berempati.
- Mengelola diri.
- Berkolaborasi.
- Menerima feedback.
- Dan tetap mampu berpikir ketika tekanan meningkat.
WEF bahkan menempatkan empathy and active listening serta service orientation and customer service sebagai bagian dari kompetensi inti yang dianggap penting oleh banyak perusahaan.
Dalam lingkungan perguruan tinggi, kemampuan tersebut memiliki konteks yang luas karena pelayanan terjadi kepada banyak pihak: mahasiswa, orang tua, kolega, mitra institusi, alumni, maupun masyarakat.
Adaptasi Bukan Hanya Menerima Perubahan
Perubahan mudah dibicarakan ketika belum menyentuh kebiasaan pribadi. Masalah muncul ketika prosedur berubah. Teknologi baru diperkenalkan. Cara kerja lama tidak lagi digunakan. Tanggung jawab bertambah. Atau tuntutan stakeholder meningkat.
Respons pertama manusia terhadap perubahan tidak selalu positif. Ada rasa tidak nyaman karena seseorang harus meninggalkan sesuatu yang sudah dikuasai dan memasuki situasi yang belum sepenuhnya dipahami.
Karena itu, kemampuan adaptasi bukan sekadar mengatakan: “Saya siap berubah.” Adaptasi adalah kemampuan untuk belajar ketika cara lama tidak lagi cukup.
Tidak semua ketidaknyamanan berarti kita salah arah. Kadang ketidaknyamanan justru muncul karena kapasitas lama sedang diuji oleh tuntutan baru.
World Economic Forum juga menemukan bahwa resilience, flexibility, dan agility termasuk kemampuan yang diperkirakan semakin penting menuju 2030.
Maka dalam organisasi, adaptasi sebaiknya tidak dimaknai sebagai: “Pokoknya ikut perubahan.”
Tetapi: “Mampukah kita memahami perubahan, mempelajari kemampuan yang diperlukan, lalu tetap memberikan kualitas terbaik dalam kondisi baru?”
Kesalahan Dapat Menjadi Feedback jika Diolah dengan Benar
Lingkungan profesional sering membuat orang takut salah. Akibatnya, seseorang menjadi terlalu berhati-hati. Ide tidak disampaikan. Keputusan terus ditunda. Eksperimen dihindari.
Padahal proses belajar hampir selalu membawa kemungkinan bahwa hasil pertama belum sempurna.
Yang membedakan individu yang terus berkembang bukan apakah ia pernah gagal, tetapi apa yang dilakukan setelah hasil tidak sesuai harapan. Apakah mencari siapa yang salah? Atau mencari apa yang bisa dipelajari?
Pernah dengar kalimat kita perlu melihat risiko sebagai kesempatan untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan? Tentu bukan berarti setiap kesalahan perlu ditoleransi. Profesionalitas tetap membutuhkan tanggung jawab.
Tetapi sebuah kesalahan seharusnya menghasilkan sesuatu:
- pengetahuan baru,
- perbaikan proses,
- perubahan perilaku,
- atau keputusan yang lebih baik di masa depan.
Jika kesalahan yang sama terus berulang tanpa pembelajaran, itu bukan lagi proses belajar.
Tim yang Kuat Tidak Dibangun Hanya dari Orang-Orang Hebat
Kemampuan individual memiliki batas. Organisasi tidak dapat tumbuh hanya karena mempunyai satu atau dua orang yang selalu mampu menyelesaikan semua masalah.
Kualitas organisasi muncul ketika kemampuan tersebut dapat bertemu dalam sebuah tim.
Dalam pengembangan tim terkadang menempatkan beberapa unsur penting: kepemimpinan yang kuat, kesamaan tujuan, prinsip yang sejalan, partisipasi, keberanian mengambil risiko, dan ketulusan membantu satu sama lain.
Ada alasan mengapa tujuan bersama penting. Jika setiap orang hanya berfokus pada pekerjaannya sendiri, tim dapat menjadi sekumpulan individu yang sibuk tetapi tidak benar-benar bergerak bersama.
Seseorang mungkin merasa: “Tugas saya sudah selesai.” Namun bagi organisasi, pertanyaannya belum selesai.
Apakah hasil kerja tersebut membantu proses berikutnya berjalan dengan baik? Kekuatan sebuah tim justru muncul ketika fungsi yang berbeda dapat saling melengkapi.
Di institusi pendidikan pun prinsipnya sama. Kualitas pelayanan tidak diciptakan oleh satu fungsi. Ia merupakan hasil dari banyak peran yang saling terhubung.
Motivasi yang Bertahan Tidak Selalu Datang dari Sumber yang Sama
Dalam pekerjaan, motivasi dapat berubah. Ada fase ketika seseorang terdorong oleh pencapaian. Ada saat ketika dukungan emosional dan rasa dihargai menjadi penting. Ada pula fase ketika pekerjaan memperoleh makna karena seseorang melihat kontribusinya sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Karena itu, motivasi tidak selalu hanya berbicara mengenai insentif.
Dalam konteks profesional, refleksi tersebut relevan karena motivasi jangka panjang sering membutuhkan hubungan antara pekerjaan dan makna. Seseorang yang mengetahui mengapa pekerjaannya penting akan melihat aktivitas yang sama secara berbeda. Administrasi bukan sekadar mengisi dokumen. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi. Pelayanan bukan hanya menjawab permintaan. Ada pihak lain yang menerima dampak dari kualitas pekerjaan tersebut.
Pelayanan Stakeholder Dimulai dari Kualitas Relasi
Salah satu pertanyaan sederhana tetapi penting adalah: Siapa orang terpenting yang menerima dampak dari pekerjaan kita?
Di perusahaan jawabannya sering disebut customer. Di perguruan tinggi, konteksnya lebih luas: mahasiswa, sesama dosen, tenaga kependidikan, orang tua, mitra, maupun pihak lain yang berinteraksi dengan institusi.
Hubungan dengan stakeholder membutuhkan komunikasi. Komunikasi bukan hanya kemampuan berbicara. Ia juga mencakup kemampuan memahami. Mendengarkan. Menyesuaikan cara menjelaskan. Memastikan pihak lain memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dan menjaga hubungan ketika terjadi ketidaksepakatan.
Dalam pelayanan, stakeholder mungkin tidak mengetahui kerumitan proses internal institusi.
Yang mereka rasakan adalah pengalaman akhirnya.
- Apakah mendapatkan kejelasan?
- Apakah didengar?
- Apakah masalah ditangani?
- Apakah interaksi menimbulkan kepercayaan?
Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya membutuhkan prosedur.
Ia membutuhkan manusia yang mampu menjalankan prosedur tersebut dengan kualitas hubungan yang baik.
Professional Personal Power Bukan tentang Menjadi Dominan
Istilah personal power mudah disalahartikan sebagai kemampuan menguasai orang lain. Padahal kekuatan personal yang sehat justru dimulai dari kemampuan mengelola diri.
- Mengenali kekuatan.
- Mengambil tanggung jawab.
- Beradaptasi.
- Mengelola respons.
- Berani belajar.
- Berkomunikasi.
- Dan mampu menggunakan kapasitas tersebut untuk memberi manfaat kepada lingkungan.
Dalam konteks profesional, seseorang yang mempunyai personal power tidak harus menjadi orang yang paling keras bersuara. Ia adalah orang yang semakin mampu mengatakan: “Apa yang dapat saya lakukan dari posisi saya agar situasi ini menjadi lebih baik?”
Di titik inilah pengembangan personal bertemu dengan pengembangan organisasi. Karena organisasi berubah ketika individu-individu di dalamnya mulai menghasilkan perilaku yang berbeda.
Capacity Building “Professional Personal Power”
Semangat pengembangan tersebut menjadi bagian dari program Capacity Building “Professional Personal Power” yang diselenggarakan oleh Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi – Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama Coach Edwin Indarto dan Akeyodia.
Program dilaksanakan secara offline selama enam jam pada Sabtu, 11 Mei 2024, dengan peserta dosen dan tenaga kependidikan.
Kegiatan diarahkan untuk mendorong peserta menggali potensi personal yang dapat menunjang pencapaian pribadi dan profesional, memperkuat human skill serta kepercayaan terhadap kemampuan diri dalam menghadapi perubahan, dan meningkatkan motivasi serta kemampuan adaptasi agar kualitas pelayanan kepada stakeholder dapat terus ditingkatkan.
Pengembangan tema bergerak dari pemahaman mengenai Professional Personal Strengths, leadership dan kekuatan tim, pembelajaran dari risiko, kemampuan menghadapi perubahan, hingga belief, motivation, character, komunikasi, dan relationship. Tema utama program pada handbook juga secara khusus membawa konteks Professional Personal Strengths untuk Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dengan pendekatan tersebut, capacity building tidak berhenti sebagai aktivitas motivasional.
Peserta diajak melihat keterhubungan antara kekuatan personal, cara bekerja dengan orang lain, kesiapan menghadapi perubahan, dan kualitas kontribusi profesional.
Kesimpulan
Organisasi pendidikan tidak hanya membutuhkan orang yang kompeten. Ia membutuhkan orang yang terus mampu berkembang bersama perubahan. Kompetensi teknis menjadi fondasi. Tetapi human skill membantu seseorang menggunakan kompetensi tersebut secara lebih efektif.
Self-awareness membuat individu memahami kekuatan dan area pengembangannya. Adaptasi memungkinkan seseorang tetap relevan ketika lingkungan berubah. Teamwork mengubah kemampuan individual menjadi kemampuan kolektif. Komunikasi membangun hubungan.
Dan orientasi kepada stakeholder memastikan bahwa semua kemampuan tersebut akhirnya menghasilkan nilai bagi pihak yang dilayani. Itulah mengapa capacity building dosen dan tenaga kependidikan bukan sekadar tentang membuat seseorang merasa lebih termotivasi setelah sebuah kegiatan.
Nilai sebenarnya muncul ketika refleksi berubah menjadi perilaku:
- lebih terbuka terhadap perubahan,
- lebih bertanggung jawab terhadap peran,
- lebih baik dalam berkomunikasi,
- lebih kuat dalam kolaborasi,
- dan semakin sadar bahwa kualitas pekerjaan kita selalu berdampak kepada orang lain.
Pada akhirnya, pengembangan institusi selalu memiliki titik awal yang sangat manusiawi: ketika orang-orang di dalamnya bersedia terus mengembangkan dirinya.
Tentang Akeyodia
Akeyodia adalah People & System Alignment Expert yang membantu individu, leader, dan organisasi menyelaraskan kapasitas manusia dengan sistem kerja melalui Business Coaching, Leadership Development, Employee Training, dan Organization Alignment.
Dalam pengembangan SDM, Akeyodia melihat bahwa perubahan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan. Individu juga perlu membangun self-awareness, human skill, kemampuan adaptasi, komunikasi, teamwork, kepercayaan diri, dan orientasi terhadap stakeholder agar kompetensi dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata.
Melalui coaching dan training, Akeyodia membantu organisasi memperkuat manusia yang menjalankan sistem, karena prosedur yang baik tetap membutuhkan orang yang mampu menghidupkannya.
Ketika individu bertumbuh, kualitas kontribusinya ikut bertumbuh. Dan ketika pertumbuhan itu bergerak bersama, organisasi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memberikan pelayanan terbaik.
Lanjut Belajar Bersama Coach Edwin Indarto
Pengembangan profesional tidak berhenti pada peningkatan kompetensi teknis. Kita juga perlu terus memperkuat self-awareness, human skill, kemampuan adaptasi, komunikasi, teamwork, leadership, serta kemampuan memberikan kontribusi yang lebih baik kepada orang lain.
Untuk membantu proses tersebut, Coach Edwin Indarto menghadirkan berbagai interactive eBook, materi pembelajaran, dan insight praktis seputar pengembangan diri, leadership, teamwork, bisnis, entrepreneurship, dan penguatan sistem organisasi.
Materinya dirancang untuk membantu Anda tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga melakukan refleksi, mengenali potensi diri, mengevaluasi cara bekerja, dan menentukan langkah pengembangan berikutnya secara lebih terarah.
Temukan koleksi pembelajaran Coach Edwin Indarto di:
Karena pengembangan profesional bukan tentang menjadi sempurna.
Ia adalah keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan menggunakan kemampuan terbaik kita agar dapat memberikan dampak yang semakin berarti.





